Kenapa Saya Berhenti Jadi Content Writer

Dalam dunia blogging ada yang namanya Content Writer. Sesuai dengan namanya, pekerjaan content writer adalah menulis content, atau artikel, untuk para pemilik blog dan website. Dulu saya adalah satu dari para content writer ini. Dan dulu, hasil dari menulis artikel menurut saya lumayan. Rata-rata tarif saya dulu sekitar Rp. 10.000 per artikel bahasa Indonesia 300 kata, dan dalam sehari saya bisa membuat sekitar 8 artikel. Tapi itu dulu. Sekarang saya sudah tidak lagi menjual jasa penulisan artikel. Ya terkadang masih ada langganan saya jaman dulu yang kontak, dan kalau saya pas lagi banyak waktu luang saya terima juga orderannya sekedar untuk mengisi waktu. Tapi yang jelas saya sudah tidak lagi secara aktif mengiklankan jasa saya. Kenapa? Ini salah satunya:

https://ads.id/forums/index.php

Anda bisa lihat sendiri di atas. Itu saya ambil dari salah satu jasa penulisan konten di ads.id. Sangat murah kan? Tarif untuk artikel bahasa Indonesia sekarang hanya Rp. 7500 saja 😀 . Dan kalau pesannya banyak malah hanya Rp. 6000 saja per 300 kata! Saya jelas tidak bisa bersaing dengan harga itu, dan saya memang tidak mau 😛 . Bayangkan saja, per 300 kata hanya Rp. 7500 atau bahkan Rp. 6000. Saya jelas-jelas menghargai waktu saya jauh di atas tarif itu. Kenapa? Karena menulis itu pakai mikir lho. Dan saya tidak munafik, yang namanya orang kerja dengan pikiran, kalau bayarannya tidak seberapa, pasti males mikirnya. Dan hasilnya? Pasti tidak maksimal, kalau tidak mau dibilang asal-asalan.

Dan satu hal lagi. Yang namanya otak itu punya batas workload. Dalam satu hari, artikel yang dibuat pertama, kedua, dan ketiga mungkin masih bagus. Tapi artikel yang dibuat kedelapan atau kesepuluh? Saya jamin hasilnya tidak akan sebagus yang awal-awal tadi. Padahal, jasa penulis konten yang komersil biasanya berbentuk tim, dan satu orang bisa mengerjakan 10 sampai 15 artikel per hari. Coba bayangkan, apa iya mereka semua dalam sehari mau benar-benar mikir sampai artikel yang ke-15? Wah bisa habis Panadol satu strip dalam sehari.

Dan ini bukan cuma teori saya, tapi pengalaman pribadi dulu waktu masih jadi penulis artikel. Dan jujur saja, saya juga pernah iseng-iseng mencoba salah satu jasa penulisan konten yang sangat komersil di ads.id. Hasilnya? Ada beberapa yang bagus, dan sisanya hancur. Mungkin sesuai dengan teori saya tadi, yang hancur itu yang ditulis belakangan dalam satu hari. Sehancur apa? Benar-benar hancur. Saya pesan artikel wisata, dan di dalam artikel itu ditulis bahwa ada gunung di stasiun tugu. 😯 . Oke saya paham bahwa mungkin penulisnya tidak tahu apa-apa tentang Jogja, tapi kan sumber di internet yang tentang Jogja ada banyak sekali. Masa iya bisa sampai se-ngarang itu. Tapi penulisnya tidak bisa 100% disalahkan. Seperti yang saya bilang tadi, dengan tarif semurah itu, hasil pemikiran macam apa yang kita harapkan dari seorang penulis?

Kalau kita amati, efek dari jasa penulisan konten murah meriah ini luar biasa. Yang saya bicarakan di sini efek terhadap “dunia online” berbahasa Indonesia. Saya yakin anda pasti sudah pernah browsing mencari informasi tentang sesuatu, tapi malah menemukan website yang isinya cuma muter-muter, dan ternyata justru inti dari informasi yang anda cari itu tidak ada di sana. Ya itu lah salah satu efeknya. Jadi terlalu banyak low quality content yang beredar di dunia maya. Dan soal kualitas content ini juga sudah salah kaprah. Banyak yang beranggapan bahwa konten yang dianggap bagus itu yang panjang.

Privacy Policy